Jakarta – Hati nurani seorang anak tidak terbentuk begitu saja. Proses itu dimulai sejak usia dini melalui keluarga, lingkungan, hingga buku-buku yang menemani masa tumbuh kembangnya.
Pesan tersebut mengemuka dalam diskusi bertajuk “Peran Strategis Orang Tua dalam Membentuk Hati Nurani Anak Melalui Buku Bacaan” yang diselenggarakan MataCinta bekerja sama dengan Perpustakaan Jakarta di PDS H.B. Jassin, Taman Ismail Marzuki, Jakarta Pusat, dalam rangka memperingati Hari Anak Nasional 2024.
Pendiri MataCinta sekaligus penulis buku anak bertema lingkungan, Amaranila Lalita Drijono, mengatakan, lahirnya MataCinta berangkat dari kegelisahannya sebagai seorang praktisi kesehatan yang melihat keterkaitan erat antara kesehatan manusia dan kondisi lingkungan.
“Sebagai dokter, saya melihat kesehatan manusia tidak bisa dipisahkan dari kesehatan lingkungan. Karena itu, saya memilih menulis buku anak agar kepedulian terhadap alam tumbuh sejak usia dini, ketika hati nurani seorang anak sedang dibentuk,” ujar Amaranila.
Menurutnya, buku anak memiliki peran jauh lebih besar daripada sekadar menjadi bahan bacaan. Cerita yang dekat dengan kehidupan sehari-hari mampu menanamkan empati, kepedulian, sekaligus membangun karakter anak secara perlahan.
Amaranila menjelaskan, melalui MataCinta, ia ingin menghadirkan buku-buku yang tidak hanya menghibur, tetapi juga mengajak anak mengenal alam, memahami tantangan lingkungan, dan tumbuh menjadi generasi yang bertanggung jawab terhadap bumi.
“Anak-anak belajar bukan hanya dari apa yang kita katakan, tetapi juga dari cerita yang mereka baca. Buku yang baik dapat menjadi jembatan untuk menanamkan empati, tanggung jawab, dan cinta terhadap bumi,” katanya.

Diskusi diawali dengan pemaparan Guru Besar Ilmu Kesehatan Jiwa FKUI, Prof. Dr. dr. Martina Nasrun, Sp.KJ., Subsp. Geriatri, yang menjelaskan bahwa pembentukan hati nurani merupakan proses panjang yang dipengaruhi oleh keluarga, lingkungan sosial, budaya, dan bacaan yang diterima anak sejak dini.
Ia menuturkan bahwa usia lima hingga enam tahun merupakan fase yang sangat menentukan dalam perkembangan moral seorang anak.
“Pada usia lima sampai enam tahun, hati nurani anak berkembang sangat pesat. Karena itu, keluarga, lingkungan, dan buku bacaan memiliki peran yang sangat penting dalam membentuk karakter mereka,” jelas Prof. Martina.
Sementara itu, Halida Hatta, Ketua Yayasan Hatta, membagikan pengalaman masa kecilnya bersama sang ayah, Wakil Presiden pertama RI Mohammad Hatta. Ia mengatakan, Bung Hatta menjadikan membaca buku sebagai tradisi keluarga yang dilakukan secara konsisten meski di tengah kesibukan sebagai negarawan.
“Ayah selalu menyediakan waktu untuk membacakan buku kepada kami. Dari kebiasaan sederhana itulah kami belajar tentang kesabaran, kecintaan terhadap ilmu, menghargai perbedaan, dan nilai-nilai kebangsaan,” kenangnya.
Halida menilai, keteladanan orang tua merupakan fondasi utama dalam menumbuhkan minat baca sekaligus membangun karakter anak.
Pandangan serupa disampaikan penulis dan aktivis perempuan Debra H. Yatim. Ia menegaskan bahwa pembentukan hati nurani anak tidak pernah berlangsung dalam ruang hampa, melainkan dipengaruhi oleh lingkungan tempat mereka bertumbuh.

“Anak tidak tumbuh sendirian. Lingkungan tempat ia hidup dan cerita yang ia baca ikut membentuk cara pandangnya terhadap sesama, kehidupan, dan alam,” ujar Debra.
Debra menambahkan bahwa buku-buku berkualitas menjadi salah satu instrumen penting untuk membantu anak memahami nilai empati, keadilan, dan kepedulian sosial.
Diskusi yang dimoderatori Amaranila Lalita Drijono itu mendapat sambutan hangat dari peserta lintas generasi. Bahkan, sejumlah peserta muda menyebut materi yang disampaikan para narasumber sebagai “semua daging”, menggambarkan padatnya wawasan yang diperoleh sepanjang diskusi.
Rangkaian acara kemudian ditutup dengan peluncuran buku terbaru karya Amaranila berjudul Planet Laut Biruku, buku kelima yang diterbitkan MataCinta.
Buku tersebut mengangkat kisah seorang anak bernama Ombak dan kakeknya di sebuah kampung pesisir Papua yang mulai merasakan dampak perubahan iklim, sampah laut, dan praktik overfishing terhadap kehidupan mereka.
Amaranila mengatakan, isu-isu lingkungan perlu diperkenalkan kepada anak melalui bahasa yang sederhana dan menyenangkan agar mereka memahami bahwa menjaga bumi merupakan bagian dari kehidupan sehari-hari.
Peluncuran buku turut dihadiri peneliti oseanografi BRIN, Prof. Dr. Reza Cordova dan Dr. Yaya Ihya Ulumuddin, yang memberikan ulasan terhadap substansi ilmiah dalam buku tersebut. Seluruh buku terbitan MataCinta juga telah melalui proses telaah oleh tim Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan.
Pada kesempatan yang sama, MataCinta meluncurkan Klub Buku Anak Indonesia melalui akun Instagram @matacinta_edu sebagai wadah untuk memperkenalkan buku-buku anak karya penulis Indonesia sekaligus memperkuat budaya literasi sejak usia dini.
Menutup kegiatan, Amaranila mengingatkan bahwa membesarkan anak bukan hanya menjadi tanggung jawab keluarga, melainkan seluruh elemen masyarakat.
“It takes a village to raise a child. Membangun masa depan anak adalah pekerjaan bersama. Orang tua, sekolah, komunitas, dan buku-buku yang mereka baca harus saling menguatkan agar lahir generasi yang sehat, berempati, dan mencintai lingkungannya,” pungkasnya.















