Secara Hirarki Pemerintah Desa Bukanlah Bawahan Pemerintah Kabupaten

- Jurnalis

Selasa, 20 Januari 2026 - 01:06 WIB

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Derap Reformasi: Hukum, Ekonomi, Pemerintahan: Jawa Tengah – Polemik Pemberhentian Tidak Dengan Hormat (PTDH) terhadap delapan (8) perangkat Desa Klapagading Kulon, Kecamatan Wangon, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, menuai sorotan tajam dari pakar hukum tata negara Universitas Perwira Purbalingga (Unperba).

Ahli Hukum Tata Negara, Dr. Endang Yulianti, SH, MH, menegaskan bahwa keputusan Kepala Desa Klapagading Kulon sah secara hukum dan mengikat selama belum dibatalkan oleh putusan pengadilan.

Menurut Endang, kepala desa merupakan Pejabat Tata Usaha Negara (TUN) yang memiliki kewenangan penuh dalam mengangkat dan memberhentikan perangkat desa sebagaimana diatur secara tegas dalam Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa.

“Saya tidak mengetahui apakah SK yang kedua itu merupakan perbaikan atau revisi dari SK pertama. Namun jika disebut sebagai perbaikan, maka itu diperbolehkan.

Pejabat TUN berwenang merevisi atau mencabut keputusannya sendiri,” tegas Endang. Ia menjelaskan, setiap keputusan pejabat TUN yang dikeluarkan atas nama jabatan dianggap sah dan berlaku sampai ada pembatalan melalui dua mekanisme yang sah, yakni putusan Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) atau pencabutan oleh pejabat yang menerbitkan keputusan tersebut.

Baca Juga :  Lapas Kelas I Tanggerang Apel Siaga Nataru Dan Ikrar Netralitas Pemilu 2024

Endang bahkan mengaku terkejut ketika delapan (8) perangkat desa yang telah diberhentikan justru tetap diizinkan bekerja setelah adanya audiensi dengan Pemerintah Kabupaten Banyumas dan rekomendasi Asisten Pemerintahan Pemda Banyumas.

“Menurut saya itu kurang tepat. Yang berwenang mengangkat dan memberhentikan perangkat desa adalah kepala desa, bukan bupati. Kabupaten tidak punya kewenangan karena desa bukan bagian dari hirarki kewenangan kabupaten,” tegasnya.

Ia menekankan, bahwa desa memiliki hak subsidiaritas dan hak rekognisi yang menjadikan urusan perangkat desa sepenuhnya berada dalam ranah kewenangan pemerintah desa.

“Putusan kepala desa memberhentikan perangkatnya adalah sah dan mengikat menurut hukum. Pendapat pemerintah daerah, praktisi hukum, atau legal opinion boleh saja, tapi itu tidak mempengaruhi keabsahan putusan tersebut,” jelas Endang.

Menurutnya, satu-satunya lembaga yang berwenang menyatakan keputusan itu cacat hukum hanyalah PTUN, setelah dilakukan pengujian berdasarkan UU Desa, peraturan pemerintah, peraturan daerah, hingga peraturan bupati sebagai aturan pelaksana. “Kalau diuji di PTUN dan dinyatakan sesuai hukum, maka keputusan itu wajib dilaksanakan. Sah dan mengikat,” tandasnya.

Baca Juga :  Kapolri Naikan Pangkat Setingkat 8 Brigjen Dan 11 Kombes Di Upacara Korps Raport Mabes Polri

Sebagai akademisi dengan NIDN dan jabatan fungsional dosen, Endang menegaskan bahwa pendapatnya murni berdasarkan kajian keilmuan hukum tata usaha negara, bukan kepentingan pihak tertentu.

Sebelumnya diberitakan, Kepala Desa Klapagading Kulon, Karsono, kembali menerbitkan SK PTDH terhadap delapan perangkat desa, menyusul dianulirnya SK oleh Bupati Banyumas. Sedangkan kuasa hukum kepala desa, Djoko Susanto, SH, menyebutkan bahwa satu dari sembilan perangkat sebelumnya telah memasuki masa pensiun per 14 Januari 2026, sehingga hanya delapan orang yang secara hukum relevan.

“Sangat tidak relevan jika SK PTDH dicabut oleh bupati, sementara kewenangan itu bukan milik bupati. Namun demikian, kami tetap menghormati Bupati sebagai pemerintah yang sah,” Kata Joko..

“Kalau mau diuji, silakan gugat ke PTUN, di Banyumas, PTUN nya di Semarang disitulah diuji apakah prosedurnya sesuai regulasi atau tidak, diluar itu, keputusan kepala desa tetap sah,” pungkasnya.

Write By: Tim DR | Editor: Adam

Follow WhatsApp Channel derapreformasi.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Susu Bubuk Muncul Bintik Hitam, Berbahayakah untuk Anak? Ini Penjelasan Pakar
Kejati Kalbar Perkuat Pengawalan Hukum Optimalkan PAD
Dol Samad: Kenapa Pemerintah Tidak Membuat Kanal Drainase – Anak Sungai Di AreaL Lahan
Kajati Kalbar Tegaskan Penanganan Bauksid Dan Napak Tilas Berjalan Sesuai Ketentuan Hukum
Surat BI Tegaskan BCI Tidak Terima BLBI 
CIB yang Terima BLBI tapi BCI dan Andri yang Ditagih dan Dituntut
Kejaksaan Tinggi Kalimantan Barat Luncurkan Sikawan Dayak
Ketua Umum DPP CIC Desak Kapolri Jenderal Suyudi Ario Seto Tindak Tegas Jaringan Narkoba di Diskotik Escape Hawaii
Berita ini 1 kali dibaca

Berita Terkait

Jumat, 30 Oktober 2026 - 18:25 WIB

Susu Bubuk Muncul Bintik Hitam, Berbahayakah untuk Anak? Ini Penjelasan Pakar

Selasa, 27 Oktober 2026 - 23:59 WIB

Kejati Kalbar Perkuat Pengawalan Hukum Optimalkan PAD

Selasa, 20 Oktober 2026 - 02:00 WIB

Dol Samad: Kenapa Pemerintah Tidak Membuat Kanal Drainase – Anak Sungai Di AreaL Lahan

Jumat, 16 Oktober 2026 - 16:09 WIB

Surat BI Tegaskan BCI Tidak Terima BLBI 

Jumat, 16 Oktober 2026 - 11:32 WIB

CIB yang Terima BLBI tapi BCI dan Andri yang Ditagih dan Dituntut

Berita Terbaru

Berita

Kejati Kalbar Perkuat Pengawalan Hukum Optimalkan PAD

Selasa, 27 Okt 2026 - 23:59 WIB

Ragam

Ustaz Ahmad Fuad: Akhlak Menjaga Keseimbangan Jiwa Manusia

Minggu, 18 Okt 2026 - 18:46 WIB