Di Balik Pertempuran Talangsari Hendro Terjebak Informasi

M.Azis; Aktifis HAM Tidak Kuasai Materi,

Ikhwanul Tidak Salah, Hendro Benar

AM.Hendro Priyono

Derap Hukum, Politik, Pemerintahan : Jakarta – Abdullah Makhmud Hendropriyono adalah Kepala Badan Intelijen Negara pada Kabinet Gotong Royong.

Hendropriyono mengenyam pendidikan di Akademi Militer Nasional Magelang pada tahun 1967. Karirnya di bidang militer cukup panjang, malah pernah menjadi Asisten Intelijen Kodam Jaya pada tahun 1985, termasuk menjadi Direktur Badan Intelijen Strategis pada tahun 1990 dan menjadi Panglima Kodam Jayakarta pada tahun 1993.

Sekilas di tahun 1998, Hendropriyono menjabat sebagai Menteri Transmigrasi dan Pemukiman Perambah Hutan dalam Kabinet Pembangunan VII sampai tahun 1999.
Pada tahun 2001, beliau menjadi Kepala Badan Intelijen Negara sampai tahun 2004.

Di luar karir bidang militer dan politik, Hendropriyono menurut kabar terakhir di tahun 2012 masih menjadi komisaris di PT Carrefour Indonesia.

Saat peristiwa Talangsari terjadi, Hendropriyono baru menjabat Komandan Korem 043/Garuda Hitam Lampung. Maksudnya, tragedi HAM yang dikliem aktifis menewaskan 130 orang itu merupakan pertiwa pertama bagi Pak Hendro dibilang pelanggar HAM berat.

Dilain sisi dalam wawancara Derap Reformasi, pada hari Rabu -14.6.2023, Mohamad Azis seorang aktifis yang pernah dituduh pada tahun 1987 oleh Asintel Kodam Jayakarta sebagai Panglima DI-TII- Kojihad Indonesia menyangkal rangkaian sebelum peristiwa yang dikenal umum Talangsari yaitu Gerakan Pengacau Keamanan (GPK).

“Aku tidak masuk dalam daftar orang yang dicurigai kuat oleh Laksus saat itu”. walau aku tau di buntutin setiap langkah.

Ditahun 1987, “Kalau saya bilang dan mengaku sebagai Panglima DI-TII-Kojihad dihadapan Pak Hendro di kodam Jaya, Tragedi Talangsari 1988 tidak akan pernah terjadi.
Kata Azis menceritakan kalau operasi gajah hanya untuk menyeruakan bahwa pergerakan islam itu masih berjalan di indonesia.

Pak Hendro Priyono pasti inget dengan saya (Azis.Red), Bagaimana tidak kenal kalau Beliau pernah menuding saya sebagai Panglima DII-TII-Kojihad Indonesia dihadapan jenderal jenderal di Makodam Jayakarta pada bulan tahun 1987, Berkas tuduhan setumpuk dari Laksusda jaya.

Ketika itu (1987) perwira penyidik Laksusda jaya bernama Ahmad Patimura bersama 4 anak buahnya membawa saya ke Kodam Jaya, kenangnya. dimana sebelumnya saya ditahan oleh Laksus hampir dua bulan, termasuk selanjutnya saya diperiksa di Kodam jaya dan di tahan. Ucapnya.

Pak Hendro, suka sesekali biasa nengok saya di sel kodam dan ada beberapa kali undang saya ke ruangnya, beri pengajian, ternyata beliau banyak mengenal ayat sampai filosofinya, hebat. minum kopi juga disediakan makan dengan pengawal. Beliau memperlakukan saya tidak seperti tahanan. Lain ya kalau dengan laksus kerutnya.

Masalahnya beliau dapat saya yakini bahwa tuduhan Laksus kepada saya sebagai ketua DI/TII/Kojihad Indonesia itu tidak benar. Tuduhan itukan berdasarkan hasil telegram dan dokumen – dokumen lain yang disita dari rumah saya oleh Laksusda diwilayah Tanjung Priok. Ceritanya.

Bagi Azis bukan kekuatiran untuk mengutarakan hal benar karena menurut nya “saya sudah Tobat, Insaf dan berjanji keluar dari pergerakan yang tidak menguntungkan”. Ucap Muhamaad Azis teduh.

Kami Derap Reformasi akhirnya harus berupaya memastikan dan menyakini tim kalau orang yang ditemui kali ini adalah tokoh yang mengetahui alur peristiwa terjadinya Tragedi Desa Talangsari lampung, bahkan kasus Wayla, sebab dia adalah petinggi komando jihad.

“Pak Hendro tidak melanggar HAM berat sekalipun ”. Kata Muhamad Aziz sambil menatap lembut kilah mengatakan, bahwa pertempuran tersebut sudah direncanakan oleh Ihwanul juga. Beliau terjebak Informasi.

“Aku perhatikan ketika itu kedua pihak sepertinya sepakat latihan tempur, apalagi Media Nasional dan setempat sudah menyebut di media kalau pengajian Warsidi adalah GPK. Sementara Warsidi dibawah perintah ketika itu sudah siap tempur._

Pergerakkan Ihwanul Warsidi mendapat dukungan dari Sumatera dan wilayah Timur sampai Philipine dan sebagian negara konplik termasuk Afganistan. Orietasi gerakan harus ada kejadian besar”. Ungkapnya.

Ketika seminggu saya lepas dari tahanan sebelum peristiwa talangsari, tuturnya, perintah komando Jihad disidangkan namun perintah lapangan tetap dikuasai panglima wilayah. Pertempuran dan pembakaran sudah harus terjadi.

ketika itu dukungan pengajian kepada Warsidi sudah punya persiapan apalagi ada sandra.

Menurut laporan informasi akurat, anggota TNI setempat yang di sandra oleh Ihwanul Warsidi dibunuh ditempat. saat itu aku sedang dibakahuni ya, mengawal kendaraan truk tujuan lampung mendapat berita dari kurir.

kurir itu turut angkat senjata lawan aparat dan terhitung menjadi mayat di berita acara. Begitu selanjutnya terjadi kontak tembak dengan Pasukan Korem.

Di singgung apakah sewaktu pertempuran di Talangsari berada ditempat ?

Azis menjawab, aku dilampung tapi bukan didesa itu. Pembakaran kampung itu memang sudah disiapkan oleh pergerakkan. Ada perintah menggali tanah di rumah, maksudnya untuk berlindung tapi ternyata banyak kayu yang rubuh menimpah lobang akibat api. Kalau tembak tembakan, granat jangan tanya waktu itu. Motipasinya kita ingin membuat peristiwa besar.

Saya mendapat informasi dari kurir dilampung mengatakan, Pak Hendro Priyono (danrem.red) memimpin pasukan datang bersama pejabat bupati kedesa talangsari.

Dan hebatnya gerakan pengajian Warsidi sudah siap melayani pasukan TNI. Terjadilah pertempuran.

Pertempuran terjadi didekat rumah penduduk desa. Katanya. tidak ada warga desa perempuan dan anak-anak yang keluar rumah dan hanya sedikit orang yang berada diladang kecuali pertemuan pengajian yang disaranakan itu berbeda hanya sedikit ibu ibu dan anak anak.

Petempuran bukan di hutan, tapi dekat rumah rumah di desa itu, tegasnya. kalau ada Ihwanul warsidi yang lari kedalam hutan itupun tidak dapat diketahui lagi, pasti dinyatakan hilang. Pasukan dan pemukiman dinyatakan hangus dan hilang saat terpukul mundur.

Aziz menceritakan pada Februari 1987 itu ia sekali dan beberapa kerabat dari jakarta datang ke Talangsari bertemu Warsidi.

“Saya katakan sebenarnya, jika aparatur negara menuduh DI-TII/Kojihad atau gerakan Islam lainnya adalah sebuah kelompok pergerakan yang ingin menerapkan syariat Islam, itu adalah tuduhan yang sangat benar._
Hanya, saat ini saya bolehkan bertanya, apakah pergerakan kalian sekarang sudah sesuai dengan perjalanan nabi-nabi sebelumnya, tanya nya”.

Bahkan dulu kami banyak mencari lahan tempat melatih anggota militer DI-TII-Kojihad hingga ke Morro Philipine selatan”. Ungkap kenangnya.

Saya hanya ingin mengabarkan, sebenarnya Pak Hendro Priyono tidak melakukan pelanggaran Ham Berat sedikitpun. Coba lihat, anak buahnya aja yang pangkatnya kapten di sandera, dan sejatinya Ihwanul Warsidi kalau dari segi mental sudah siap tempur.

Aku katakan ini karena anda tidak mengetahui polah karakter pengajian kami saat itu, termasuk Komnasham, bahkan Pak Hendro sendiri.

Di sisi lain juga ia mengisahkan, “kalau Pak Jayadi, waktu itu ditemani dua kawannya, kenangnya mengatakan, “itu dulu, sebelum besok lakukan Bom BCA Jakarta, malamnya ketemu aku di kampung Bahari Tanjung Priok, lembut pelan datar suaranya.

Kembali lagi ke Pak Hendro, Beliau datang ke Talangsari kan untuk mengambil jenazah Danramil Kapten Sutiman.

Pake Toa kan teriak teriak disaksikan pinda setempat minta dikembalikan jenazah Sutiman tapi di tolak, diserang dengan tembakan rakitan bomman dan panah.

Sutiman itu sudah dicurigai kupluk yang nggak engeh di monitor Ihwanul dengan kejadian kecil anak buahnya.

“Aku informasikan ya, katanya bergurau, lengan pak hendro itu diatas ada besetnya di belakang spill melintang. Lanjutnya “peristiwa Talangsari Lampung sebenarnya tidak akan terjadi kalau aku mengaku sebagai Panglima pada tahun 1987. Tegasnya.

Aku beritahu kalau pengakuan itu aku jawab Ya, imbasnya kan luas membahayakan pergerakan bro, seolah dialog.

Block Isolasi

Tahun 1986 waktu aku di penjara setiap hari ketemu presiden perlemen timor laste, satu blok.

Tiap malem kami ngopi cerita – cerita di altar bersama bro Fernando de Araujo, Sanana. Gurau nya.

Kembali lagi, ungkapnya, “mana mungkin aku ngaku, tetap menyangkal tuduhan Laksus waktu itu, kenangnya, apalagi dihadapan Kodam tetap gak ngaku dong. Penyidik Laksus itu kejem lo”.

Suatu hari aku diborgol dihadapan beberapa Jenderal, bagaimana aku yakinkan minta dilepas. Bahwa ini laksus salah tangkap orang, walau ada bukti bukti. ya .. cuma telegram dan buku buku ada juga catatan ya sama kitab Al Fuqon satu diktat. Senyumnya.

Itukan pelajaran, bagaimana kita mahluk hidup harus dapat mencari. Negara juga menjamin kebebasan warga untuk membaca, belajar, dstnya. Kilahnya sambil nyeruput teh poci.

Malah ungkapnya, aku pernah di laporkan oleh Laksus ke Pak Hendro sebagai Preman yang banyak ikut organisasi.
Mereka (Laksus) membuktikan kalau aku ditangkap di dalam Pelabuhan Tanjung Priok, banyak kawalan truk dijalan jalan raya jakarta -jawa barat sumatera sampai Bali disertai dengan barang bukti satu karung STNK-BKP mobil truk. Begitu juga dituduh oleh Laksus kami terlibat rencana Peledakan Pertamina dan peledakan jembatan ancol solobone.

Peristiwa penting ujiannya 1 hari sebelum saya disidang dikodam Jayakarta tahun 1987, dan selanjutnya di lepas. Ada yang mereka (penyidik kodam.Red) juga menyangsikan dari aku lantaran ada berita dimedia dan TV, kalau Morro gencetan senjata dengan Philipine, dan philipine ngadu ke Indonesia, mungkin dulu Bakin, dengan berita ada aksi pertempuran di kota philipina selatan yang mengumumkan ada pengangkatan Ihwanul Indonesia memegang kendali disana dengan nama berbeda.

Saya yang masih diruang sel belakang Kodam di bawa, ternyata Pak Hendro bersama Perwira Hasan Pattimura sudah menunggu saya di ruang Kodam (Kasi Intelijen) tanya perihal itu dan minta penjelasan.

“Aku menyangkal keras.”
“Hari ini (sabtu 17.6.2023) aku beritahu kalau itu adalah orang yang sama”. Ungkapnya berdiri salaman meminta dirahsia alamat pertemuan, sambil lalu meninggalkan lobby suite.