Pelaku Financial Technology Cenderung Monopoli

- Jurnalis

Selasa, 23 Maret 2021 - 15:29 WIB

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Derap Ekonomi: Menteri Keuangan Sri Mulyani melihat pelaku financial technology (fintech) cenderung monopoli dan Oligopoli, artinya, tak banyak kompetitor di sektor itu, sebagaimana di lansir dari CNN.


Monopoli berarti hanya ada satu perusahaan yang menguasai pasar. Sementara, oligopoli adalah suatu keadaan pasar yang hanya dikuasai oleh beberapa perusahaan dengan skala produksi atau modal yang besar.


“Bagaimana dengan teknologi tetap bisa mendorong kompetisi dan tetap menciptakan pasar terbuka. Kalau dilihat pelaku fintech cenderung monopoli atau oligopoli,” ungkap Sri Mulyani dalam Webinar: Kata data Indonesia Data and Economic Conference 2021, Selasa (23/3)

Sri Mulyani melihat perusahaan teknologi juga melakukan hal serupa, salah satunya Google. Menurutnya, tak ada kompetitor yang muncul untuk bersaing dengan Google sampai sekarang.
“Twitter juga sampai sekarang tidak ada kompetitornya, it’s gonna be hard. Tidak mudah menciptakan pasar terbuka,” tutur Sri Mulyani.

Sri Mulyani melihat perusahaan teknologi juga melakukan hal serupa, salah satunya Google. Menurutnya, tak ada kompetitor yang muncul untuk bersaing dengan Google sampai sekarang.

Baca Juga :  Kasad Silahturahim Ke Ponpes Anwarut Taufik Dan Darullughah Wadda'wah


“Twitter juga sampai sekarang tidak ada kompetitornya, it’s gonna be hard. Tidak mudah menciptakan pasar terbuka,” tutur Sri Mulyani.
Selain itu, untuk e-commerce juga masih dikuasai oleh tiga perusahaan, yakni Tokopedia, Bukalapak, dan Shopee.

Sri Mulyani menilai industri e-commerce di Indonesia dikuasai oleh perusahaan besar-besar, “Kompetisi dikunci,” imbuhnya.

Baca Juga :  Kemenkumham Lakukan Rotasi Jabatan Di Kanwil Banten


Menurutnya, pelaku usaha di sektor teknologi digital juga biasanya langsung mengakuisisi perusahaan rintisan (startup) yang sedang berkembang. Contohnya adalah Microsoft dan Facebook.

Akuisisi dilakukan agar tak ada komFacebook, dengan demikian, perusahaan yang bergerak di sektor teknologi digital itu hanya sedikit dan mereka bisa menguasai pasar dengan mudah.
“Dia langsung beli kompetitornya, karena ada orang jenius membuat program dan ide, belum IPO, langsung dimakan,” pungkas Sri Mulyani.(DR)

Follow WhatsApp Channel derapreformasi.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Kejaksaan Tinggi Kalimantan Barat Luncurkan Sikawan Dayak
Ketua Umum DPP CIC Desak Kapolri Jenderal Suyudi Ario Seto Tindak Tegas Jaringan Narkoba di Diskotik Escape Hawaii
Kajati Kalbar Setujui Empat permohonan Mekanisme Keadilan Restotarif
Kejati Kalbar Gelar Penyuluhan Hukum Di Kubu Raya Bahas Pencegahan Karhutla Dan Permasalahan Pertanahan
Muktamar NU Ubah Mekanisme Pemilihan Ketum PBNU, Mengapa Penting bagi Peta Politik Indonesia?
RUU Perampasan Aset Dikebut: Kalau Disahkan, Apa yang Sebenarnya Bisa Berubah?
Prabowo Perintahkan Strategi Baru Hadapi Karhutla Sumatra, Sumur Bor hingga Tim Khusus TNI
Saham BMRI Tertekan, Polemik Rekening Supriyono Jadi Sorotan
Berita ini 6 kali dibaca

Berita Terkait

Rabu, 7 Oktober 2026 - 11:20 WIB

Kejaksaan Tinggi Kalimantan Barat Luncurkan Sikawan Dayak

Selasa, 6 Oktober 2026 - 20:25 WIB

Ketua Umum DPP CIC Desak Kapolri Jenderal Suyudi Ario Seto Tindak Tegas Jaringan Narkoba di Diskotik Escape Hawaii

Jumat, 25 September 2026 - 18:46 WIB

Kajati Kalbar Setujui Empat permohonan Mekanisme Keadilan Restotarif

Senin, 21 September 2026 - 22:52 WIB

Kejati Kalbar Gelar Penyuluhan Hukum Di Kubu Raya Bahas Pencegahan Karhutla Dan Permasalahan Pertanahan

Minggu, 30 Agustus 2026 - 10:29 WIB

Muktamar NU Ubah Mekanisme Pemilihan Ketum PBNU, Mengapa Penting bagi Peta Politik Indonesia?

Berita Terbaru

Berita

Wantimpres Diminta Perkuat Suara Daerah

Sabtu, 3 Okt 2026 - 21:02 WIB