Derap Reformasi: Hukum, Ekonomi, Pemerintahan; Kalimantan Barat – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla.red) di Kalimantan merupakan bencana ekologis berulang yang dipicu oleh kombinasi aktivitas manusia, keresahan lahan gambut, dan fenomena iklim.
Catatan panjang sejarah menunjukkan rentetan peristiwa karhutla sejak tahun 1982 hingga krisis terparah yang terjadi kembali pada tahun 2026 dapat juga dikatakan akibat hantaman fenomena iklim kering.
Namun kronologi peristiwa Karhutla terparah di Kalimantan sepanjang sejarah tetap berulang kali mengalami lonjakan titik api berskala masif yang menghanguskan jutaan hektare area hutan serta memicu krisis kemanusiaan global.
Perhatikan catatan di tahun 1982–1983 yakni awal tragedi besar yang dipicu oleh El Niño panjang, sekitar 3,2 hingga 3,6 juta hektare hutan hujan primer di Kalimantan Timur hangus terbakar juga memusnahkan habitat satwa endemik seperti orangutan, beruang madu, dan macan dahan.
Selanjutnya di tahun 1997–1998 kalimantan mengalami krisis Kabut Asap Global yang menjadi salah satu karhutla terdahsyat dengan estimasi area terbakar mencapai 5 juta hektare di Kalimantan. dampaknya kabut asap beracun yang dihasilkan menyebar luas hingga ke negara tetangga seperti Malaysia, Singapura, Brunei, Filipina, dan Thailand Selatan. Sementara di tahun 2015 – 2019 terjadi kerugian ekonomi massif hingga Bank Dunia mencatat kerugian ekonomi Indonesia menembus US$16,1 miliar atau setara Rp284 triliun.
Pengulangan di tahun 2019 itu menghanguskan ratusan ribu hektare lahan mineral serta gambut yang mayoritas beralih fungsi menjadi area perkebunan. Dan selanjutnya di tahun 2026 (Krisis El Niño “Godzilla”) yang dapat digolongkan sebagai salah satu yang terparah dalam satu dekade terakhir.
Sepanjang Januari hingga Juli 2026 saja, satelit mendeteksi lebih dari 34.000 titik api. Provinsi Kalimantan Barat mencatatkan area terbakar terluas (mencapai lebih dari 28.000 hektare hingga pertengahan tahun), disusul oleh titik-titik api berkepanjangan di kawasan gambut Kalimantan Tengah yang belum sepenuhnya padam hingga bulan Oktober
Sementara menurut data survey lapangan dan juga dari berbagai lembaga lingkungan dan akademis menyebutkan faktor penyebab utama Karhutla bukanlah cuaca, pemicu utamanya bersumber dari tindakan ulah manusia dan Korporasi (90%–99% Kasus).
Mayoritas titik api muncul akibat pembersihan lahan (land-clearing) dengan cara dibakar secara sengaja maupun tidak terkendali, baik oleh perorangan maupun di area konsesi perusahaan perkebunan sawit atau HTI.
Di lain sisi sumber penting yang dapat kami himpun yaitu tokoh central DPP GAPIKAN Kalimantan Barat Dol Samad (Mat Ketang.19/10/2026. Red) mengatakan, Kami juga memiliki lahan namun tidak seberapa luas. Kami membelah lahan dan membuat kanal drainase tidak besar atau anak sungai dengan lebar empat (4) meter. Dari pengalaman tersebut, kami tidak pernah kehilangan air ekologis saat musim kemarau. Kata Mantan Ketuan Umum DPP Gapikan Kalimantan Barat.
Jika luas keseluruhan hutan lahan gambut kalimantan sekitar 4,5 juta hektare, mengapa Pemerintah tidak membuat proyek Kanal Drainase/Anak Sungai pada lahan 4.5 hektar lahan gambut itu? Tanya Dol Samad. Gambut kering lanjutnya sangat rapuh dan mudah menyimpan bara api bawah tanah yang sulit dipadamkan kecuali dengan Penyerapan Air Ekologis dari kanal drainase/anak sungai kita mampu menjaga kesetimbangan pori pori tanah serta perakaran tanaman pasca panen. Ungkapnya.
Sedangkan sumber terpecaya lain yang enggan disebut jati dirinya mengunkapkan, anomali Iklim (El Niño) atau Siklus El Niño kuat dapat memperpanjang durasi musim kemarau dan meningkatkan risiko eskalasi kebakaran besar hingga 2,7 kali lipat. Dampak dan kerugian nyata dari Kesehatan terjadi akibat kabut asap pekat memicu lonjakan penderita Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA). Di Palangka Raya, konsentrasi polutan PM2.5 sempat menembus ambang “Sangat Tidak Sehat” hingga memaksa sekolah memberlakukan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) dan melumpuhkan jadwal penerbangan bandara.
Sumber ancaman lain yaitu kepunahan Satwa. Informasi dari Lembaga internasional IUCN baru melaporkan bahwa akibat Karhutla kini mengancam 52% populasi Orangutan Kalimantan yang tersisa. Satwa liar terpaksa mengungsi ke permukiman warga karena hutan tempat tinggal dan sumber makanan musnah habis dilahap api.
Penulis : Redaksi
Editor : Rahmat
Sumber Berita: Survey Lapangan












Komentar