JAKARTA – Akhlak berkaitan erat dengan kemampuan manusia menjaga keseimbangan jiwa di tengah pergulatan antara dorongan jasmani dan tuntunan ruhani.
Keseimbangan ini menjadi salah satu pokok bahasan dalam kajian bertema “Urgensi Akhlak dalam Kehidupan” bersama Ustaz Ahmad Fuad di Masjid Jami Darussalam, Cilandak Timur, Jakarta Selatan, Minggu (18/10/2026) pagi.
Dalam kajian tersebut, Ustaz Fuad menjelaskan bahwa diri manusia terdiri atas tiga unsur, yakni ruh, jiwa, dan jasad. Ketiganya memiliki peran berbeda dalam kehidupan manusia.
Menurut penjelasan Fuad, terdapat perseteruan antara ruh dan jasad. Jasad cenderung menarik jiwa ke bawah atau kehidupan dunia, sedangkan ruh menarik jiwa ke atas, menuju ibadah kepada Allah SWT.
“Bicara akhlak, maka kita berbicara tentang keseimbangan jiwa.” Ini nti pemikiran dalam kajian tersebut.
Fuad menjelaskan, di dalam jiwa terdapat berbagai potensi yang berkaitan dengan nafs, antara lain syahwat, angan-angan atau khayalan, dan amarah. Potensi-potensi ini perlu dikelola secara seimbang agar tidak menimbulkan perilaku yang menyimpang.
Sebagai contoh, potensi marah yang berlebihan dapat membuat seseorang menjadi brutal. Sebaliknya, jika terlalu lemah, seseorang bisa menjadi penakut. Demikian pula syahwat yang dapat berlebihan atau berkurang sehingga memerlukan pengendalian.
Dalam kerangka tersebut, akhlak bukan berarti menghilangkan potensi yang dimiliki manusia, melainkan menempatkannya secara proporsional atau menempatkan sesuatu pada tempatnya. Untuk ini, akal menjadi alat untuk mengatur potensi-potensi tersebut agar tidak menguasai diri secara berlebihan atau sebaliknya.
Kajian ini juga menggarisbawahi bahwa pembentukan akhlak tidak berhenti pada pengetahuan tentang baik dan buruk. Manusia perlu terus menjaga keseimbangan jiwa agar perilakunya mencerminkan nilai-nilai kebaikan sesuai tuntutan Allah SWT dalam kehidupan sehari-hari.
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
“demi jiwa serta penyempurnaan (ciptaan)nya,” “maka Dia mengilhamkan kepadanya (jalan) kejahatan dan ketakwaannya,” “sungguh beruntung orang yang menyucikannya (jiwa itu),”
(QS. Asy-Syams 91: Ayat 7-9)











