Haidar Alwi: Upaya Memecah Belah Pemimpin Hanya Melemahkan Bangsa

- Jurnalis

Selasa, 11 Februari 2025 - 08:13 WIB

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Pendiri Haidar Alwi Care dan Haidar Alwi Institute, Haidar Alwi, menegaskan bahwa upaya memecah belah Presiden Prabowo Subianto dan Presiden ke-7 Joko Widodo (Jokowi) adalah bentuk strategi politik lama yang harus diwaspadai. Ia melihat bahwa pihak-pihak yang mencoba membenturkan keduanya tidak menginginkan stabilitas pemerintahan yang kuat dan solid.

Haidar Alwi menyoroti berbagai upaya pecah belah domba yang muncul belakangan ini, yang beredar luas di media sosial. Menurutnya, pola ini bukanlah hal baru dalam dunia politik Indonesia.

“Ada yang ingin membangun narasi bahwa Prabowo dan Jokowi bersaing dalam pemerintahan. Ini bukan hal baru dalam politik Indonesia. Sejak era penjajahan, devide et impera sudah menjadi taktik untuk melemahkan persatuan bangsa,” jelas Haidar Alwi, (Senin, 10 Februari 2025).

Baca Juga :  Kapolda Metro Jaya Pimpin Upacara Peringati Hut Ke-72 Polairud

Lebih lanjut, Haidar Alwi menyoroti pernyataan Prabowo Subianto saat berbicara di hadapan peserta Kongres XVIII Muslimat Nahdlatul Ulama di Jatim International Expo, Surabaya. Dalam kesempatan itu, Prabowo menegaskan bahwa ada pihak-pihak yang berusaha memisahkannya dari Jokowi, namun ia menganggapnya sebagai hal yang tidak perlu ditanggapi secara serius.

Baca Juga :  Persatuan Gereja-Gereja Di Indonesia Bersikap, Kita Harus Hormati Hasil Pemilu 2024

“Ada yang sekarang mau misah-misahkan saya sama Pak Jokowi. Lucu juga untuk bahan ketawa boleh,” ujar Prabowo dalam pidatonya.

Menurut Haidar Alwi, sikap santai Prabowo terhadap upaya adu domba ini menunjukkan bahwa ia adalah pemimpin yang berjiwa besar dan tidak mudah terpengaruh oleh rumor serta intrik politik. Haidar Alwi pun menegaskan bahwa pola adu domba semacam ini bukanlah hal baru, melainkan strategi klasik yang sudah sering digunakan untuk melemahkan pemimpin nasional.

Follow WhatsApp Channel derapreformasi.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Muktamar NU Ubah Mekanisme Pemilihan Ketum PBNU, Mengapa Penting bagi Peta Politik Indonesia?
RUU Perampasan Aset Dikebut: Kalau Disahkan, Apa yang Sebenarnya Bisa Berubah?
Prabowo Perintahkan Strategi Baru Hadapi Karhutla Sumatra, Sumur Bor hingga Tim Khusus TNI
Saham BMRI Tertekan, Polemik Rekening Supriyono Jadi Sorotan
Djohermansyah: Pemerintah Tak Perlu Tunggu Status Bencana Nasional untuk Turun Tangan
Di Tengah Krisis Global, Diplomasi Energi Prabowo Dinilai Selamatkan Fiskal Indonesia
Indonesia Terancam Terjebak antara Batu Bara dan Energi Terbarukan
Kajati Kalbar Komitmen Perkuat Kawal Kebangkitan Ekonomi Desa Hadiri Peresmian 1.061 Koperasi Merah Putih
Berita ini 1 kali dibaca

Berita Terkait

Minggu, 30 Agustus 2026 - 10:29 WIB

Muktamar NU Ubah Mekanisme Pemilihan Ketum PBNU, Mengapa Penting bagi Peta Politik Indonesia?

Jumat, 28 Agustus 2026 - 16:21 WIB

RUU Perampasan Aset Dikebut: Kalau Disahkan, Apa yang Sebenarnya Bisa Berubah?

Selasa, 25 Agustus 2026 - 11:52 WIB

Prabowo Perintahkan Strategi Baru Hadapi Karhutla Sumatra, Sumur Bor hingga Tim Khusus TNI

Selasa, 25 Agustus 2026 - 06:30 WIB

Saham BMRI Tertekan, Polemik Rekening Supriyono Jadi Sorotan

Senin, 24 Agustus 2026 - 21:55 WIB

Djohermansyah: Pemerintah Tak Perlu Tunggu Status Bencana Nasional untuk Turun Tangan

Berita Terbaru

Berita

KPK Tahan 8 Tersangka Korupsi di ATR/BPN

Rabu, 16 Sep 2026 - 19:48 WIB

Penggugat, Andri Tedjadharma

Hukum

KPKNL Lelang Aset Bodong, Sertifikat Ada di Pemilik

Minggu, 13 Sep 2026 - 22:04 WIB