Dari Tambang ke Teknologi: Strategi Nasional REE ala Haidar Alwi

- Jurnalis

Senin, 5 Mei 2025 - 15:42 WIB

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Keberadaan Rare Earth Elements (REE) atau unsur tanah jarang semakin menarik perhatian publik global. Di tengah transisi energi bersih dan perlombaan teknologi tinggi antarnegara, REE menjadi komoditas strategis yang diperebutkan banyak kekuatan besar dunia. Namun ironisnya, di Indonesia, negara yang diperkirakan menyimpan potensi REE dalam jumlah besar, isu ini masih belum menjadi prioritas utama dalam kebijakan nasional.

R. Haidar Alwi, pendiri Haidar Alwi care dan Haidar Alwi institute mengingatkan bahwa Indonesia harus segera bangun dari tidur panjang. Menurutnya, REE adalah senjata masa depan yang tak berbentuk peluru, tetapi mampu menentukan arah kekuasaan ekonomi, pertahanan, dan inovasi teknologi global.

“Kita terlalu sering menjadi eksportir mentah dan penonton dari revolusi industri global. Kini, di tangan kita ada bahan dasar peradaban digital dan energi masa depan. Kita tidak boleh lengah,” ujar Haidar Alwi.(5/5/2025)

Logam Kecil, Dampak Global Besar.

REE adalah kelompok 17 unsur dalam tabel periodik, yang digunakan dalam berbagai teknologi mutakhir seperti mobil listrik, turbin angin, baterai energi baru, radar militer, dan satelit komunikasi. Bahkan dalam industri pertahanan, satu unit jet tempur modern seperti F-35 membutuhkan lebih dari 400 kg REE.

Meski disebut “tanah jarang”, unsur ini sebenarnya tidak terlalu langka dari sisi jumlah. Namun, kemurnian dan konsentrasi ekonomisnya sulit ditemukan. Itulah yang menjadikannya komoditas bernilai tinggi dan sulit digantikan. Negara-negara besar seperti Amerika Serikat, Tiongkok, Jepang, dan Uni Eropa berlomba-lomba mengamankan pasokan logam ini dari wilayah-wilayah yang potensial.

Indonesia dan Potensi yang Tersembunyi.

Sejumlah data dan riset geologi menunjukkan bahwa Indonesia menyimpan cadangan REE yang signifikan. Beberapa di antaranya bahkan telah tercatat dalam data Kementerian ESDM, antara lain:

  1. Bangka Belitung: dikenal sebagai wilayah penghasil monazite, mineral pembawa REE yang umum ditemukan sebagai ikutan dalam tambang timah.
  2. Kalimantan Barat dan Tengah: menyimpan mineral xenotime, juga termasuk pembawa REE yang potensial.
Baca Juga :  Lapas Cipinang Siap Mewujudkan Zona Integritas Menuju WBK Tahun 2023

Estimasi total cadangan bijih xenotime di Indonesia mencapai lebih dari 6,4 miliar ton, sedangkan monazite terukur mencapai lebih dari 52 juta ton.

Haidar Alwi menyebut data ini sebagai peringatan sekaligus peluang. “Negara lain sibuk berebut, kita justru belum menyentuhnya secara serius. Ini salah satu aset yang bisa mengubah posisi geopolitik Indonesia,” jelasnya.

Teknologi Ekstraktif: Hambatan atau Peluang?

Mengolah REE tidaklah semudah menambang batubara atau emas. Diperlukan serangkaian proses yang kompleks, mulai dari cracking mineral refraktori, pelindian dengan pelarut kimia, hingga pemurnian ion individu dengan tingkat presisi tinggi.

Tantangan terbesar datang dari fakta bahwa sebagian besar mineral REE juga mengandung unsur radioaktif seperti thorium dan uranium. Hal ini membutuhkan teknologi pengolahan dan penanganan limbah yang sangat ketat dan aman.

Namun, menurut Haidar Alwi, tantangan bukan alasan untuk mundur, melainkan panggilan untuk membangun pusat riset nasional, mendorong transfer teknologi, dan menyiapkan SDM unggul di bidang metalurgi, geologi, dan kimia industri.

Lebih dari Sekadar Tambang: REE sebagai Komoditas Strategis Militer dan Energi.

Tidak seperti komoditas lain, REE bukan hanya menyangkut kebutuhan industri sipil. Ia menjadi penentu dalam strategi militer dan kedaulatan energi. Dalam berbagai laporan pertahanan Amerika dan Eropa, REE dikategorikan sebagai “critical raw material”, setara dengan minyak dan gas.

Indonesia sebagai negara dengan letak strategis di jalur Indo-Pasifik harus menyadari bahwa REE adalah bagian dari arena perebutan pengaruh global. Menurut Haidar alwi, jika Indonesia tidak mengelola sendiri sumber dayanya, bukan tidak mungkin negeri ini kembali tergantung pada impor komponen teknologi dari negara pemilik REE.

Menuju Hilirisasi dan Kemandirian Industri Teknologi.

Baca Juga :  Aturan Hukum Golden Visa Disahkan, Tarik Orang Asing Berkualitas untuk Berinvestasi

Salah satu hal yang disoroti Haidar Alwi adalah kegagalan masa lalu Indonesia dalam melakukan hilirisasi. Selama ini, mineral diekspor dalam bentuk mentah, dan nilai tambahnya justru dinikmati negara lain.

Haidar Alwi menekankan pentingnya membangun:

  1. Pabrik pemurnian REE (smelter berbasis teknologi tinggi).
  2. Industri magnet permanen dalam negeri.
  3. Kemitraan global yang adil dan transfer teknologi.

“Bayangkan jika kita bisa memproduksi komponen baterai, turbin, atau radar di dalam negeri. Kita tidak hanya mengekspor logam, kita akan ekspor produk teknologi,” ungkap Haidar Alwi.

Langkah Strategis dan Rencana Aksi Nasional.

Sebagai solusi konkret, Haidar Alwi mengajukan apa yang ia sebut sebagai “Rumus Strategi Nasional REE”:

R = Riset – Bangun pusat riset dan pengembangan REE dengan dukungan negara
E = Eksplorasi – Lakukan pemetaan potensi REE dari Aceh hingga Papua
E = Ekstraksi – Kembangkan teknologi pengolahan REE yang ramah lingkungan dan efisien

Konsep ini dinilai lebih realistis dibanding sekadar membentuk badan formal, karena langsung menyasar ekosistem sains, industri, dan kemandirian teknologi.

Kedaulatan Bukan Sekadar Retorika.

Haidar Alwi menyampaikan pesan yang dalam dan penuh makna:

“Jika kita gagal mengelola REE hari ini, kita akan mengemis teknologi di masa depan. Tapi jika kita berani berdiri sendiri, REE bisa menjadi gerbang menuju Indonesia yang benar-benar berdaulat secara ekonomi, energi, dan ilmu pengetahuan.”

Menurutnya, kedaulatan bukan sekadar slogan. Ia harus diwujudkan dalam kebijakan, regulasi, dan keberpihakan kepada kepentingan nasional jangka panjang.

Di tengah dinamika global yang penuh ketidakpastian, Indonesia dihadapkan pada satu pilihan besar: menjadi lumbung REE dunia yang dikuasai asing, atau menjadi poros kekuatan teknologi Asia dengan REE sebagai pijakannya.

Langkah pertama hanya bisa diambil jika pemerintah, industri, dan akademisi mau duduk bersama dan bertindak sekarang, bukan nanti.

Follow WhatsApp Channel derapreformasi.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Muktamar NU Ubah Mekanisme Pemilihan Ketum PBNU, Mengapa Penting bagi Peta Politik Indonesia?
RUU Perampasan Aset Dikebut: Kalau Disahkan, Apa yang Sebenarnya Bisa Berubah?
Prabowo Perintahkan Strategi Baru Hadapi Karhutla Sumatra, Sumur Bor hingga Tim Khusus TNI
Saham BMRI Tertekan, Polemik Rekening Supriyono Jadi Sorotan
Djohermansyah: Pemerintah Tak Perlu Tunggu Status Bencana Nasional untuk Turun Tangan
Di Tengah Krisis Global, Diplomasi Energi Prabowo Dinilai Selamatkan Fiskal Indonesia
Indonesia Terancam Terjebak antara Batu Bara dan Energi Terbarukan
Kajati Kalbar Komitmen Perkuat Kawal Kebangkitan Ekonomi Desa Hadiri Peresmian 1.061 Koperasi Merah Putih
Berita ini 2 kali dibaca

Berita Terkait

Minggu, 30 Agustus 2026 - 10:29 WIB

Muktamar NU Ubah Mekanisme Pemilihan Ketum PBNU, Mengapa Penting bagi Peta Politik Indonesia?

Jumat, 28 Agustus 2026 - 16:21 WIB

RUU Perampasan Aset Dikebut: Kalau Disahkan, Apa yang Sebenarnya Bisa Berubah?

Selasa, 25 Agustus 2026 - 11:52 WIB

Prabowo Perintahkan Strategi Baru Hadapi Karhutla Sumatra, Sumur Bor hingga Tim Khusus TNI

Selasa, 25 Agustus 2026 - 06:30 WIB

Saham BMRI Tertekan, Polemik Rekening Supriyono Jadi Sorotan

Senin, 24 Agustus 2026 - 21:55 WIB

Djohermansyah: Pemerintah Tak Perlu Tunggu Status Bencana Nasional untuk Turun Tangan

Berita Terbaru

Berita

KPK Tahan 8 Tersangka Korupsi di ATR/BPN

Rabu, 16 Sep 2026 - 19:48 WIB

Penggugat, Andri Tedjadharma

Hukum

KPKNL Lelang Aset Bodong, Sertifikat Ada di Pemilik

Minggu, 13 Sep 2026 - 22:04 WIB